Direktur Juventus, Giorgio Chiellini dan Damien Comolli, mengecam kepemimpinan wasit yang dianggap “memalukan” saat timnya kalah 3-2 dari Inter Milan. Mereka secara terbuka mendesak Gianluca Rocchi untuk mundur setelah insiden kartu merah kontroversial Pierre Kalulu merusak jalannya laga. Oleh karena itu, manajemen Juventus memutuskan untuk bersuara keras karena insiden wasit tuai kontroversi tersebut sangat merugikan tim.
Protes Keras Manajemen Akibat Wasit Tuai Kontroversi
Juventus mengambil langkah yang tidak biasa dengan mengirimkan Giorgio Chiellini dan Damien Comolli untuk menghadapi media, alih-alih pelatih Luciano Spalletti. Kemarahan kubu Turin memuncak akibat kartu merah Pierre Kalulu menjelang turun minum. Meskipun tayangan ulang menunjukkan tidak ada kontak, kinerja pengadil Federico La Penna tetap berujung pada pengusiran pemain.
Chiellini dan Comolli melabeli kepemimpinan wasit tersebut sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima”. Selain itu, mereka menegaskan bahwa kesalahan fatal dalam pertandingan sebesar Derby d’Italia telah mencoreng citra sepakbola Italia. Kejadian di mana wasit tuai kontroversi ini dianggap sebagai bukti nyata bahwa standar perwasitan di Serie A sedang dalam krisis kepercayaan yang mendalam.
Chiellini dan Comolli Mengamuk di Hadapan Media
“Kami tidak bisa bicara soal sepakbola setelah apa yang terjadi hari ini,” tegas Chiellini kepada Sky Sport Italia dengan nada tinggi. Ia merasa sangat kecewa karena situasi wasit tuai kontroversi terus berulang dalam laga-laga krusial. Menurutnya, standar perwasitan saat ini tidak memadai untuk kompetisi papan atas seperti Liga Italia. Namun, ia berharap momen pahit ini menjadi titik balik bagi perbaikan kualitas pengadil di lapangan.
Damien Comolli turut menambahkan pandangan klub dengan emosional mengenai buruknya kinerja pengadil malam itu. Ia merasa sangat memalukan melihat ketidakadilan yang terjadi berulang kali sepanjang musim ini. Bahkan, Comolli menegaskan bahwa pengusiran Kalulu adalah ringkasan dari masalah wasit tuai kontroversi yang mereka lihat sepanjang musim. Ia memuji perjuangan para pemain, namun menyayangkan hasil akhir yang dipengaruhi keputusan yang keliru.
Masalah Protokol VAR dan Standar Perwasitan Serie A
Insiden ini menyoroti celah dalam protokol VAR saat ini yang membatasi ruang gerak kepemimpinan wasit dalam mengoreksi kartu kuning. Meskipun pengusiran Kalulu terbukti salah di layar kaca, teknologi tidak dapat melakukan intervensi. Oleh sebab itu, Juventus mendesak agar aturan IFAB segera direvisi guna meminimalisir drama wasit tuai kontroversi di masa depan.
Singkatnya, absennya Spalletti di hadapan media adalah bentuk strategi klub untuk melancarkan kritik terhadap kinerja pengadil. Mereka merasa infrastruktur perwasitan saat ini tertinggal jauh dari kualitas kompetisi yang semakin modern. Juventus berharap sikap keras mereka dapat memaksa otoritas sepakbola Italia untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bagaimana wasit tuai kontroversi ini bisa terjadi di laga sebesar Derby d’Italia.
Menanti Respons Otoritas Sepakbola Italia
Tekanan kini berada di pundak Gianluca Rocchi untuk merespons tuntutan mundur terkait buruknya kepemimpinan wasit di liga. Otoritas sepakbola mungkin akan dipaksa untuk mempercepat evaluasi aturan, termasuk wacana hak tinjauan ulang bagi pelatih. Meskipun demikian, Juventus tetap harus menelan pil pahit kehilangan poin akibat momen wasit tuai kontroversi tersebut.
Manajemen Bianconeri berharap agar perdebatan mengenai kinerja pengadil ini menghasilkan solusi jangka panjang. Mereka menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji perbaikan yang sering kali tidak terealisasi. Ke depannya, akurasi kepemimpinan wasit akan menjadi kunci utama untuk menjaga integritas dan daya tarik kompetisi Serie A di mata dunia.