Thomas Frank diserbu nyanyian “dipecat pagi ini” (sacked in the morning) oleh fans Tottenham. Hal ini terjadi setelah timnya kembali kehilangan poin di Liga Primer dalam hasil imbang 2-2 kontra Burnley. Mantan bos Brentford itu kini berada di bawah tekanan besar akibat performa domestik yang buruk sepanjang musim 2025/26. Padahal, Spurs akan segera menghadapi jadwal neraka yang sangat berat di bulan Februari.
Artikel Terkait :

Tottenham Perpanjang Rekor Buruk di Bawah Thomas Frank
Tottenham kembali tampil lesu pada Sabtu sore kemarin. Mereka harus puas ditahan imbang 2-2 oleh Burnley yang merupakan penghuni posisi ke-19. Micky van de Ven sempat membawa tim tamu unggul lebih dulu. Namun, bek lawan berhasil membalas sebelum turun minum untuk menyamakan kedudukan.
Spurs bahkan hampir menelan kekalahan setelah Lyle Foster mencetak gol di babak kedua. Beruntung, Cristian Romero menyelamatkan Thomas Frank dari kekalahan lewat gol sundulan di masa injury time. Kendati selamat, hasil ini memperpanjang tren buruk mereka di Liga Primer dengan catatan lima laga tanpa kemenangan.
Tekanan Fans Spurs dan Protes di Turf Moor
Thomas Frank kini berada di bawah pengawasan ketat manajemen klub. Kekalahan dari West Ham sebelumnya sempat memicu laporan bahwa pelatih asal Denmark itu akan segera didepak. Meski sempat dipertahankan usai menang di Eropa, para pendukung tetap merasa khawatir dengan prospek tim ke depannya.
Sebagian pendukung di tribun tandang Turf Moor secara aktif menyerukan pemecatan bos Spurs tersebut saat peluit akhir berbunyi. Ini adalah kali kedua dalam seminggu Frank mendapatkan cemoohan dari fans sendiri. Namun, ia tetap bersikap keras kepala dan menganggap performa timnya sebenarnya tidak terlalu buruk.
Nasib Thomas Frank di Tengah Jadwal Neraka Februari
Hasil terbaru ini membuat persentase kemenangan Thomas Frank bersama Spurs merosot ke angka 35,29 persen. Situasi diprediksi akan semakin sulit bagi sang manajer selama satu bulan ke depan. Setelah perjalanan ke Frankfurt, Tottenham harus menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Manchester City dan Manchester United.
Puncak ujian bagi pelatih Tottenham ini akan terjadi pada akhir Februari saat mereka menghadapi Arsenal. Jika performa buruk terus berlanjut sepanjang periode sulit tersebut, Frank kemungkinan besar akan kehilangan pekerjaannya. Manajemen klub diperkirakan tidak akan mentoleransi rentetan kekalahan di laga derbi yang krusial.
Kontras Performa di Liga Champions
Anehnya, performa buruk di liga domestik sangat kontras dengan pencapaian mereka di Liga Champions. Tim asuhan Thomas Frank justru berkembang pesat di kompetisi Eropa tersebut. Mereka berhasil mengalahkan tim-tim kuat seperti Villarreal dan Borussia Dortmund di fase grup.
Kemenangan atas Dortmund bahkan membawa Spurs ke posisi kelima di tabel fase liga. Kini, kemenangan di markas Frankfurt menjadi target utama untuk mengamankan posisi delapan besar. Frank tentu berharap kesuksesan di Eropa dapat meredam kemarahan fans untuk sementara waktu. Namun, fokus utama publik tetap tertuju pada kebangkitan tim di kompetisi Liga Primer.